Perdagangan dalam Al qur'an (2)

Oct 27, 2008
Posted by Kosasih

Map of Indonesia showing Riau provinceImage via Wikipedia

Redaksi fantasyiruu adalah perintah Allah agar ummat Islam segera bertebarandi muka bumi untuk melakukan aktivitasbisnis setelah shalat fardlu selesai ditunaikan. Ke mana tujuan bertebaran itu? Ternyata Allah SWT tidakmembatasinya hanya sekadar di kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi, atau Indonesia saja. Allah memerintahkan kita untuk go global atau fi al-ard.Ini artinya kita harus menembus Timur Tengah, Eropa, Amerika, Australia, Jepang dan negar-negara Asia lainnya. Untuk apa kita bertebaran ke tempat-tempat tersebut? Allah menjawab bukan untuktourism belaka, tetapi untuk berdagang dan mencari rezeki "wabtaghu min fadl Allah" (M.Syafi'i Antonio,2003).

Ketika perintah bertebaran ke pasar global Eropa, Australia, Amerika, Asika, Afrika, bersatu dengan perintah berdagang,maka menjadi keharusan bagi kita membawa goods and services dan komoditas ekspor lainnya serta bersaing dengan pemain-pemain global lainnya (Cina, Taiwan, Korea, India, Thailand, dan lain-lain). Menurut kaidah marketing yang sangat sederhana tidak mungkin kita bisa bersaing sebelum memiliki daya saing di 4 P: Products, Price, Promotion, dan Placement atau delivery. Hanya dengan produk yang inovatif dan kualitas yang memadai kita bisa merebut pasar. Produk yang inovatif baru akan laku bila dijual dengan harga (price) yang bersaing dan promosi yang efektif.
Demikian juga nasabah baru akansetia dan terpuaskan bila kita menyerahkannya (placement) sesuai jadwal danafter sales service (layanan purna jual) yang prima.

Dalam Surat al-Quraish Allah melukiskansatu contoh dari kaum Quraish (leluhur Rasulullah dan petinggi bangsa Arab) yang telah mampu menjadi pemain global dengan segala keterbatasan sumberdaya alam di negeri mereka. Allah berfirman, "Karena kebiasaan orang-orang Quraish. (Yaitu) kebiasaan melakukan perjalan dagang pada musim dingin dan musim panas."

Para ahli tafsir baik klasik, seperti al-Thabari, Ibn Katsir, Zamakhsyari, maupun kontemporer seperti, al-Maraghi, az-Zuhaily, dan Sayyid Qutb, sepakat bahwa perjalanan dagang musim dingin dilakukan ke utara seperti Syria, Turki, Bulgaria, Yunani, dan sebagian Eropa Timur, sementara perjalanan musim panas dilakukan ke selatan seputar Yaman, Oman, atau bekerja sama dengan para pedagang Cina dan India yang singgah di
pelabuhan internasional Aden.

Perintah Al-quran untuk melakukan perdagangan dengan go internasional ke manca Negara telah dibuktikan oleh generasi Islam di masa kejayaan Islam.

PeterL. Bernstein dalam buku The Power of Gold, (2000, p.66-67), menggambarkan kejayaan ummat Islam genarasiawal dalam melakukan perdagangan internasional..

The Arabs had no difficulty accumulating amassif golden treasure.Their ceativity at the task was impressive… (they) outsmarted their competitors at trade.The Arabs soon succeeded in eatingdeeply in to the hearth of Byzantineeconomic power by setting themselves up as traders of extraordinary acumen andpersistence. In time, They dominated the major commercial contract that andserved Byzantine so well for so long.Throghout all of the Byzantine sphere of influence, even as the built new commercial relationships all along the shouthern Mediteranean. The Arab ships plied the sea down the east coast of Afrika and across the oceans to India, and Chinain search of profit. They even reveled northward, through the river highways Of Russia, to the Scandanavian countries, trading merchandise acquired from across the seas for furs, amber, honey and slaves

Saat ini contoh yang paling dekat dengan kemampuan dagang yang dilukiskan Alquran mungkin Singapura atau Hong Kong, negeri yang miskin sumberdaya alam tetapi mampu menggerakkan dan mengontrol alur ekspor di regional Asia Tenggara dan Pasifik. Sementara Indonesia, yang luas salah satu provinsinya (Riau) 50 kali Singapura, dengan potensi ekspor dan sumberdaya alam yang ribuan kali lipat, ternyata jauh tertinggal. Mungkin kita harus bercermin pada Alquran dan hadits yang selama ini kita tinggalkan untuk urusan bisnis dan ekonomi.

Lemahnya kerjasama Bisnis

Meskipun Alquran cukup banyak membicarakanperdagangan bahkan dengan tegas memerintahkannya, dan meskipun negeri-negeri muslimmemiliki kekayaan alam yang besar, namun ekonomi ummat Islam jauh tertinggal dibanding negara-negara non Muslim. Banyak faktor yang membuat ummat Islamtertinggal dari bangsa lain, antara lain, lemahnya kerjasama perdagangan sesame negeri muslim. Menurut catatan OKI sebagaimana yang terdapat dalam buku Menujutata baru Ekonomi Islam, kegiatan perdagangan sesama negeri muslim hanya 12 %dari jumlah perdagangan negara-negara Islam.

Fenomena lemahnya kerja sama perdagangan itu terlihat pada data-data berikut :

Lebanon dan Turki mengekspor mentega ke Belgia, United Kingdom dan negara-negara Eropa Barat lainnya. Semenentara Iran, Malaysa, Pakistan dan Syiria mengimport mentega dari Eropa Barat.Aljazair mengekspor gas asli ke Perancis, sedangkan Perancis mengekspornya ke Magribi Mesir adalah pengekspor kain tela yang ke 10 terbesar di dunia, tetapi Aljazair, Indonesia, dan Iran mendapatkan kain itu (import) dari Eropa Barat. Aljazair, Mesir dan Malaysia mengimpor tembakau dari Columbia, Greece, India, Philipine dan Amerika Serikat. Sementara Turki dan Indonesia adalah mengekspor utama tembakau keAmerika dan Eropa.

Selain ekspor yang relatif sedikit kenegara-negara Timur Tengah, fakta juga menunjukkan bahwa produk Indonesia yang dibutuhkan negara muslim di Timur Tengah, harus melalui Singapura. Konsekuensinya,yang mendapat keuntungan besar adalah Singapura, karena ia membeli dengan harga murah dan menjual ke Timur tengah dengan harga yang mahal. Dan Negara kita seringkali cukup puas dengan kemampuan ekspor sekalipun mendapatkan keuntungan marginyang sedikit. Sungguh kebodohan kita dalam perdagangann internasional. Hal ini tentu bisa mengecewakan Nabi Muhammad yang telah meneladankan sikap fathanah (cerdas) dan komunikatif (tabligh) dalam perdagangan

Mudah-mudahan semangat nuzul quran tahun ini dapat mengingatkan kita untuk mementingkan kembali aspek perdagangan yang selama ini kita abaikan dan mampu memasarkan goods dan services yang bersaing di pentas global.

(Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Pascasarjana Ekonomi Keuangan Islam UI dan Islamic Economic and Finance Trisakti dan Programn Magister Universitas Paramadina)

Reblog this post [with Zemanta]

0 coment: